CENTER OF EXCELENT
1. Pengajaran Al Qur’an
Tujuan:
- Penanaman kecintaan kepada Al-Qur’an sebagai hudan Linnas (petunjuk manusia).
- Kemapuan membaca Al-Qur’an dengan tartil.
- Kemampuan menghafal sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan terjemahnya.
- Pengamalan Al-Qur’an dalam seluruh gerak langkah kehidupan.
Strategi:
- Pembentukkan tim khusus pengajar Al-Qur’an.
- Pengajaran qiroatul Qur’an (membaca Al-Qur’an dengan metode Iqro).
- Pengajaran Tahfidzul Qur’an (hafalan Qur’an) dengan metode Talaqi, taqrir dan setoran
2. Peningkatan Pengajaran Agama Islam
Tujuan:
– Memberikan bekal pendidikan agama yang cukup kepada anak didik melalui praktik ibadah dan tauladan kehidupan
– Pembinaan khusus kepada siswa yang belum mencapai prestasi baik dalam bidang tilawah dan ibadah
Strategi:
- Memberikan jam tambahan dalam pelajaran pendidikan agama islam
- Memberikan contoh nyata pelaksanaan praktik ibadah dalam kehidupan
- Memonitoring dan mengevaluasi pelaksanaan ibadah siswa.
3. Optimalisasi Potensi Siswa
Tujuan:
- Memantau minat dan bakat yang dimiliki siswa
- Mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki siswa
- Memotivasi siswa yang memiliki keberanian dalam menujukkan potensi yang dimilikinya diberbagai kegiatan.
- Mengarahkan siswa siswi untuk terampil berbahasa arab dan inggris
Strategi:
- Menyelenggarakan kegiatan yang dapat memwadahi potensi siwa
- Melakukan obsevasi potensi siswa dikelas kelas awal
- Memberikan berbagai altenatif kegiatan ekstrakulikuler yang bisa menjadi wadah optimalisasi potensi siwa.
Wacana Keseimbangan
1. Arkanut-Tarbiyyah atau rukun pendidikan itu ada 3 (Qs. Al Jumuah ayat 2). Yang pertama, Tilawah. Dengan demikian pendidikan harus berupaya agar peserta didik mampu membaca, memahami dan juga mengamalkan pesan ilahi (Al Quran dan Hadits). Yang kedua, Tazkiyyah. Yaitu pembersihan jiwa. Di dalam jiwa manusia ada dua potensi besar, yaitu taqwa dan fujur (kemaksiatan). Pendidikan berupaya agar potensi taqwalah yang akan muncul dan berkembang, sedangkan potensi fujur diredam dan diarahkan dengan kebaikan, Ketiga, Ta’lim, yaitu pembekalan ilmu. Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan satu sisi saja dari tujuan pendidikan, bukanlah tujuan utama. Sehingga pendidikan harus mengupayakan terciptanya keseimbangan antara ketiga rukun pendidikan ini (Tilawah, Tazkiyyah, Ta’lim).
2. Sedangkan tanggung jawabpendidikan juga ada 3 lembaga. Pertama dan yang paling utama adalah keluarga. Yang kedua sekolah. Dan yang ketiga adalah masyarakat. Dengan demikian, ketiga lembaga tersebut bertanggung jawab dalam mensukseskan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya mengandalkan pada satu lembaga pendidikan saja. Paling tidak, keluarag dan sekolahlah yang menjadi tolak ukur perubahan yang baik di msyarakat.
3. Modal dasar pendidikan juga ada tiga. Pertama, pendidik (dengan seperangkat ilmu yang akan di berikan). Kedua, murid (dengan seperangkat potensi kemampuan untuk menyerap ilmu pengetahuan). Ketiga, sarana (dengan seperangkat sarana untuk mendukung terciptanya potensi pendidkan di suatu lembaga).
Dengan demikian sudah suatu keharusan buat kita untuk mengupayakan terjadinya keseimbangan antar ketiga modal dasar pendidikan tersebut.
Sehubungan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, maka upaya untuk menciptakan suatu model pendidikan yang ideal juga merupakan tanggung jawabbersama. Untuk itu, ada 2 hal yang penting untuk di perhatikan, yaitu:
- Kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam mengkondisikan siswa untuk menguasai ketiga rukun pendidikan, merupakan sutau keharusan. Dengan demikian, keteladanan yang di tampilkan oleh pendidik (Guru dan orang tua), baik di keluarga maupun di sekolah akan sangat berpengaruh. Disinilah, seorang pendidik harus harus melakukan proses adaptasi diri dan pengorbanan. Pada akhirnya semua kita harus kembali untuk belajar.
- Pada dasar nya keberadaan lembaga pendidikan adalah tanggung jawab negara. Artinya, negaralah yang sebenarnya harus memberikan fasilitan belajar siswa. Namun, hal tersebut baru merupakan idealita. Pada akhirnya segala sesuatu kembali kepada keluarga dan sekolah. Dalam rangka inilah, kita harus memahami betapa besar nya dana pendidikan yang harus di pikul bersama.
